Thursday, November 19, 2015

RAHASIA BANK INDONESIA DALAM MISI SEDEKAH


Setiap muslim pasti pernah sedekah melalui kotak amal di mesjid terutama para pria minimal saat sholat jum'at. Nah berapa biasanya yang Anda sedekahkan ke dalam kotak amal? Gambar orang bawa golok? Apa pantas orang bawa golok masuk ke mesjid?

Jadi siapa yang pantas masuk ke mesjid? Pasti orang yang pakai kopiah dan berbaju rapih, bener kan? 
Nah disinilah peranan Bank Indonesia yang pintar dalam mendesain uang 100 ribu rupiah yang bertujuan agar yang masuk ke dalam mesjid atau kotak amal adalah uang 100 ribu rupiah bukan 1000 rupiah agar mesjid tetap makmur dan yang sedekah pun cepat dikabulkan hajatnya.

Satu rahasia lagi adalah kalau gambar uang yang lain tokohnya sendiri sedangkan 100 ribu berdua, kenapa? Ngapain tuh berdua di mesjid? Biar sholatnya berjamaah...keren kan?

Hahaha....ini hanya sekedar hiburan saja tapi masuk secara logika dalam bersedekah. Jangan dianggap serius beritanya tapi anggap serius makna dari cerita ini....Mudah-mudahan setelah membaca cerita ini kualitas sedekahnya makin meningkat ya....aminn...

Saturday, October 24, 2015

CURAHAN HATI KARENA KABUT ASAP DI KOTAKU



Hutan dibakar kering kerontang
Hutan dibakar Asap datang
Hutan dibakar penyakit meradang
Hutan-hutanku hilang anak negeri bernasib malang
Hutan-hutanku hilang, kota ku hilang hilang, 


Adakah engkau tahu ini adalah hukuman
Adakah engkau tahu ini adalah peringatan
Adakah engkau tahu ini adalah ancaman
Adakah engkau tahu ini adalah ujian Tuhan

Sadar dan sadarlah hei anak negeri
Sadar dan sadarlah hei para pemimpin
Hentikan, hentikan
Hentikan semua duka ini

Kembalikan kesuburan negeri ini
Kembalikan keindahan hutanku
Kembalikan ketenangan bangsa ini
Kembalikan, kembalikan hutanku
Biarkan, biarkan hutanku bangkit lagi
....

Kebakaran hutan bisa mencakup daerah yang sangat luas. Dampaknya bisa dirasakan secara global dalam bentuk bancana polusi asap dan pemanasan global.
Kebakaran hutan merupakan kejadian terbakarnya hutan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Skalanya bisa lokal pada luasan terbatas atau kebakaran hebat hingga jutaan hektar. Penyebab kebakaran hutan bisa alami ataupun karena kegiatan manusia.
Ada sedikit perbedaan antara istilah kebakaran hutan dan pembakaran hutan. Pembakaran identik dengan kejadian yang disengaja pada satu lokasi dan luasan yang telah ditentukan. Sedangkan kebakaran lebih pada kejadian yang tidak disengaja dan tak terkendali. Pada prakteknya proses pembakaran bisa menjadi tidak terkendali dan memicu kebakaran.
Kebakaran hutan berskala besar cukup sulit untuk dipadamkan. Kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama agar semua titik api bisa padam. Pada kondisi tertentu, seperti tanah kabut, kebakaran masih terus berlangsung di dalam tanah meski api dipermukaan telah padam semua. Sehingga sewaktu-waktu bisa meletup kembali ke permukaan. Kebakaran hutan menjadi penyumbang terbesar laju deforestasi. Kehilangan hutan akibat kebakaran hutan lebih besar dibanding konversi lahan untuk pertanian dan illegal logging.

Friday, October 23, 2015

MEJA KAYU DAN SEORANG KAKEK RENTA


Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
**********************************************************************
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.